“Don’t Judge The Book By Its Cover” Itu Memang Benar

“Don’t Judge The Book By Its Cover” Itu Memang Benar

Kalau diingat, terkadang Saya senyum-senyum sendiri.

Tidak hanya sekali atau dua kali, terutama akhir-akhir ini, beberapa orang merasa terkejut dengan apa yang Saya bisa lakukan. Tentang skill dan pandangan yang Saya miliki.

Terutama tentang suatu skill yang tidak umum.

“Saya tidak menyangka kalau kamu bisa!”

“Kok bisa yang kayak gitu?”

“Belajar dari mana?”

Lebih tepatnya, mereka merasa tidak menyangka.


Sejauh sebelum ini, tentang diri Saya, sepertinya kebanyakan orang cenderung lebih mengenal sosok yang pendiam, tak banyak suara, tak banyak tingkah.

Celakanya, sosok pendiam cenderung dipandang tak mampu. Tak memiliki keahlian yang diperhitungkan.

Mungkin begitu ya, atau prasangka Saya saja? Siapa tahu. Hehe….

Namun, kecakapan bicara sering jadi standar penilaian seseorang itu hebat sih. Suatu standar yang selalu Saya tentang. Orang terdekat Saya di organisasi semasa kuliah dulu, jika mereka peka, pasti menyadari.

Istilah “No Action Talk Only” hanya menjadi penyesalan di ujung.

Beberapa di antaranya yang berasal dari masa lalu, lebih-lebih mereka yang mengenal Saya sebagai lawan diskusi ketika berorganisasi. Saya yakin hanya stigma “keras kepala” yang melekat jika mengingat nama Niam.

Terbukti sih, beberapa waktu lalu ketika bertemu adik tingkat yang sempat mengabdi pada satu organisasi yang sama. Sebut saja anak dari Banyuwangi. Brand image sosok yang “keras kepala” adalah poin yang memang melekat pada nama Saya.

Ibaratnya, jika ada sebuah keputusan yang dianggap kekeh (keras kepala), responnya begini.

“Siapa sih? Niam? Oh wajar!”

Bersyukur, Saya dijadikan pribadi yang tak terlalu ambil pusing dengan sudut pandang orang sekitar.

Sedikit yang disayangkan, tidak pernah ditelusuri alasan yang mendasari Saya mempertahankan argumen.

Sebagai contoh, sistem pengkaderan sebuah organisasi cenderung siapa lebih kenal siapa. Siapa yang terdekat. Seseorang yang baru, yang jauh akan sulit masuk pada circle organisasi. Andai kata diberikan kesempatan, sangat sulit untuk bisa bertahan.

Kebanyakan, orang-orang berpengaruh di sebuah organisasi pasti cenderung mempersiapkan kader khusus berdasarkan orang-orang yang lebih dulu dekat dengan mereka. Tidak semua, tapi kenyataanya memang kebanyakan begitu.

Boleh dong Saya menyebutnya sedikit “Nepotisme”. Masih sedikit…

Potensi yang lain jadi terabaikan – lebih tepatnya, tidak diberikan kesempatan.

Saya secara terang-terangan menentang kebijakan yang seperti itu. Kenapa?

  1. Setiap anggota organisasi memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang, bukan yang dekat-dekat saja. Saya tahu, ada unsur kepercayaan dalam mewariskan kejayaan organisasi. Tapi mengapa tak diwariskan ke seluruh generasi penerus sih?
  2. Bukankah akan jadi lebih baik jika semakin banyak kader kompeten yang memiliki loyalitas pada sebuah organisasi? Jadi, tidak ada lagi stigma orang itu-itu saja.
  3. Daripada seolah menjadi ahli seleksi dengan hanya mempertimbangkan kecakapan retorika, kedekatan, apalagi latar belakang, kenapa tidak diserahkan pada seleksi alam saja. Daripada ada penyesalan “No Action Talk Only” di ujung.
  4. Masih terkait kecakapan retorika, yang pendiam dan tak terlalu diperhatikan, bukan berarti tak memiliki potensi. Mereka hanya tak diberi kesempatan saja.

Oke, itu hanya sekadar sharing.

Kembali pada poin. Sosok Saya yang tak terlalu ambil pusing. Tak ingin terlalu terlibat dengan perbincangan, yang menurut Saya tak memberi tambahan skill. Justru membuat Saya mempelajari banyak hal baru yang pada akhirnya menjadi skill yang dipandang orang.

  • Graphic Design
  • Menulis
  • Blogging
  • Web Design
  • Blog Template Design
  • Video Editor
  • Search Engine Optimation
  • Facebook Ads & Instagram Ads
  • Keyword Research
  • Analisa Bisnis
  • Marketing Strategy
  • Bussiness Development

Yang perlu digaris bawahi, Saya bukan ahli dalam banyak bidang tersebut.

Saya suka saja.

Dan memang enggan menjadi ahli.

Sebab mimpi Saya masih sama, membangun bisnis (Salah satunya Keripik Pisang Lukiluck). Dalam membangun bisnis, terlalu memperhatikan teknis tentu tidaklah bagus.

Jadi, kalau Saya bisa bicara lebih banyak terkait bidang tersebut. Bukan lantaran Saya ini ahli. Lebih tepatnya, lawan bicara saja yang belum memahami hal terkait.

Post Comment