fbpx

7 Alasan Kenapa Anda Jangan Jadi Pengusaha

Jangan Jadi Pengusaha

Saya sengaja membuat konten ini,

agar Anda YANG INGIN JADI PENGUSAHA MENGURUNGKAN NIATNYA.

Jadi Pengusaha.

Apa hal pertama yang Anda pikirkan jika membaca dua kata tersebut?

“Wah jadi pengusaha itu sepertinya enak, bisa santai, tidak ditekan oleh kerjaan apalagi atasan”

“Waktu luangnya banyak, tidak ada lembur, bisa sering jalan-jalan atau liburan”

“Hidupnya tidak susah, bisa dapat uang cepat”

“Uangnya, pokoknya banyak deh!”

“Seperti gula yang dikerumunin semut, jadi pengusaha itu membuat banyak orang mendekat”

“Hidup juga seperti tidak ada masalah, buktinya banyak pengusaha sukses yang sering liburan”

“Jadi bos, bisa memerintah sesukanya”

Kira-kira, 70% orang yang pernah Saya minta untuk menggambarkan tentang dua kata tersebut menerangkan demikian.

Asal Anda tahu…

SEMUA ITU HANYA OMONG KOSONG.

Halusinasi saja!

Tidak ada sama sekali hal menyenangkan dari yang sudah Anda baca (Awalnya) – dan mungkin Anda termasuk yang membayangkannya.

Jadi, untuk pertama yang Saya sarankan,

SUDAHLAH, JANGAN COBA JADI PENGUSAHA!

ANDA TIDAK AKAN SANGGUP.

LEBIH NYAMAN JADI KARYAWAN, UANG BULANAN ANDA SUDAH PASTI.

Anda boleh saja tidak percaya dan mengabaikan apa yang Saya sampaikan.

Tapi, Anda akan tetap terperangkap pada mindset yang salah tentang menjadi pengusaha.

Kalau Anda benar-benar ingin membuka mata dan pikiran tentang sisi tidak menyenangkannya menjadi pengusaha, silahkan baca semua nasehat gratis dari Saya.

Benar, nasehat ini Saya berikan GRATIS. Semata karena Saya tidak ingin Anda salah jalan.

Saya akan menceritakannya dari beberapa pengalaman pribadi Saya sendiri.

1. Jadi Pengusaha Hidupnya Tidak Pernah Santai

Apa saja sih tekanan dalam pekerjaan yang membuat Anda berpikir kalau jadi pengusaha itu hidupnya lebih santai? Lebih tidak ada tekanan?

  • Target kerja
  • Deadline
  • Bos galak
  • Rekan yang menjengkelkan
  • Aturan perusahaan
  • Yang mana?

Coba pikir ulang, tekanan dalam pekerjaan yang Anda rasakan itu bisa hilang ketika sudah lepas jam kerja dan sudah tidak berada di lingkungan kantor.

Kadang tidak sengaja. Sering juga Anda sengaja tidak ingin memikirkan apapun tentang pekerjaan dan kantor.

Keluar dengan teman mencari hiburan, bercengkrama dengan keluarga, atau melakukan aktivitas menyenangkan dengan hobi Anda.

Satu hal yang akan sulit Anda temukan jika jadi pengusaha. Melepaskan semua tekanan di waktu luang.

Saya berusaha bangun antara jam 2 sampai jam 3 pagi. Sejak awal bangun (ada jeda melakukan aktivitas lain), pikiran Saya selalu tentang bisnis.

  • Tentang target penjualan
  • Strategi yang harus Saya lakukan
  • Riset
  • Evaluasi strategi
  • Membuat konten
  • Masalah trafik
  • Iklan
  • Manajemen komplain
  • Pelayanan
  • Kualitas produks
  • Jadwal produksi
  • Penataan tempat produksi yang efektif
  • Sumber Daya Manusia
  • Stok produk dan bahan baku
  • Pengiriman
  • Laporan keuangan
  • Administrasi lainnya
  • Perencanaan bulan depan
  • Evaluasi bulan sebelumnya
  • Manajemen waktu Saya
  • Itu belum semua, masih BANYAK

Siang juga begitu.

Dan malam? Tentu juga sama.

Saya baru tidak memikirkannya ketika akhirnya tertidur (umumnya jam 10-11 malam). Ya, ketika tidak dalam keadaan sadar.

Saya sangat kesulitan mencari waktu untuk melakukan hal-hal yang Saya senangi. Futsal, joging, atau main game.

Tanpa perlu Saya jelaskan bagaimana tekanannya, Saya kira Anda sudah paham bahwa menjadi pengusaha itu sangat membebani.

Jadi, jika yang menjadi alasan Anda ingin menjadi pengusaha karena Anda merasa tidak sanggup mengatasi tekanan di kantor, tidak sanggup untuk diatur dan ditekan atasan, tidak sanggup mengejar target, dan ingin merasa lebih santai (atau Saya bisa menyebutnya LEMAH), lalu bagaimana Anda bisa menghadapi tekanan jadi pengusaha yang tidak ada habisnya, tidak kenal dimana dan kapannya?

2. Waktu Luangnya Banyak? Yang Benar Saja! Bahkan Saya Tidak Memiliki Hari Minggu.

Apa yang Saya katakan benar.

Dulu, ketika Saya masih bekerja sambil berbisnis. Saya lebih sering mengalokasikan waktu khusus untuk bisnis pada hari Sabtu dan Minggu (Weekend).

Lalu, ketika Saya mengambil keputusan untuk resign, Saya rencanakan agar Sabtu dan Minggu bisa Saya gunakan untuk beristirahat karena Weekday (Senin-Jumat) sudah Saya alokasikan untuk bisnis.

Realitanya? Tidak demikian.

Seperti yang Saya sampaikan, Saya bahkan seolah tidak memiliki hari minggu. Semua waktu Saya, habis untuk memikirkan bisnis.

Jadi, hari minggu saja tidak punya bagaimana bisa Anda bilang kalau menjadi pengusaha itu memiliki banyak waktu luang?

Memang ada pandangan kalau jadi pengusaha itu enaknya tidak terikat dan dibatasi waktu – jam kerja.

Tapi kalau yang Anda maksud jam kerja di sini adalah aturan ketenaga kerjaan tentang 7-8 jam kerja. Berangkat kerja jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore.

Anda tidak salah, sebagai orang yang terjun di dunia usaha, Saya memang tidak mengalami itu.

TAPI LEBIH DARI ITU.

Dari jam 2 pagi – jam 11 malam, sebagian besar Saya alokasikan untuk bisnis.

Andaikata tubuh manusia tidak dibatasi kemampuan fisiknya (bisa lelah dan mengantuk) mungkin 24 jam sudah Saya habiskan semua.

Awalnya memang harus seperti itu.

Dalam dunia usaha, hanya ada dua kategori orang yang bisa menikmati waktu luangnya.

  1. Pengusaha sukses dimana usahanya sudah berjalan secara autopilot
  2. Pengusaha yang baru merintis yang malas dan tidak benar-benar sungguh-sungguh memikirkan bisnisnya

Pertanyaannya, Anda termasuk yang mana?

Baru mulai, atau baru akan mulai?

3. Saya Tidak Memiliki Jaminan Apapun Kapan Saya Akan Mendapatkan Uang

Resiko yang Saya ambil dengan menjadi pengusaha adalah Saya harus siap jika setiap bulannya Saya tidak memiliki penghasilan tetap.

Perkara penghasilan, tidak seaman menjadi karyawan yang sudah tahu tanggal berapa rekeningnya akan terisi.

Kalau tidak jualan, Saya tidak akan mendapatkan penghasilan.

Maaf…. Saya ralat.

Lebih tepatnya, meski sudah jualan tapi tidak ada yang membeli maka Saya tidak akan mendapatkan apa-apa.

Jadi, bukan berarti karena menjadi pengusaha Saya bisa menghasilkan uang dengan cepat. Ingin mendapatkan uang hari ini, maka hari ini pula Saya mendapatkan uang. Tidak begitu.

Melihat kebutuhan Anda yang banyak.

Belum keinginan ini itu.

Biaya hidup yang bukannya mengecil justru semakin membengkap. (Biaya sekolah lah; cicilan motor, mobil, rumah; modal nikah; tagihan listrik, air; sampai paket data yang Anda sulit lepas darinya)

Maka dari itu, sebaiknya pikir-pikir lagi deh kalau ingin jadi pengusaha.

Sekecil-kecilnya gaji seorang karyawan, setidaknya Anda sudah tahu kapan akan menerima uangnya.

4. Anda Tahu Tidak, Kalau Pendapatan Dari Bisnis Itu Naik Turun?

Iming-iming terbesar menjadi pengusaha adalah uangnya banyak, bisa cepat kaya.

Lalu….. selamat, Anda jadi korban investasi bodong atau usaha abal-abal. Mungkin bisa terjun dalam bisnis MLM.

(Mungkin, tidak semua sistem MLM tidak bagus. Ada yang bagus kok. Tapi yang jelek banyak. Saya garis bawahi yang jelek saja, yaitu usaha MLM yang sistemnya hanya mengutamakan rekruit orang saja tanpa mengedepankan value produk yang dijual. Sebab, jatuhnya Anda akan dipaksa menjual kebohongan – termasuk iming-iming cepat kaya tadi)

Tapi begitulah penyakit Anda dan sebagian banyak orang. Selalu ingin instan. Terjun bisnis sekarang jadi cepat dapat uang banyaknya.

Tidak sepenuhnya salah memang.

Jika bisa tembus target penjualan, Saya bisa menerima penghasilan yang jauh di atas gaji yang pernah Saya peroleh ketika masih menjadi karyawan.

Sayangnya, seperti yang Saya ceritakan di atas. Semuanya tergantung pada penjualan produk Saya.

Sekali lagi, di sinilah letak lebih baiknya menjadi karyawan. Sudah jelas nominal uang yang akan diterima setiap bulannya.

Jadi, jika orientasi Anda ingin jadi pengusaha adalah penghasilan yang lebih besar. Sebaiknya Anda urungkan niat Anda.

Selain karena tidak pasti kapan akan menuai hasilnya, juga tidak ada kepastian seberapa besar uang yang akan diperoleh.

Mungkin, bisa lebih tinggi.

Tapi Saya tidak yakin akan seinstan itu. Apalagi jika Anda baru memulai. Ini baru “akan” lagi.

Tidak ada yang benar-benar bisa instan menjadi kaya.

Belajar saja dari cara memasak mie instan!

5. Ada Rasa Kesepian, Awalnya.

Beberapa waktu terakhir, ketika Saya berselancar di jejaring sosial, banyak yang mengutarakan pendapat kalau merasa semakin bertambah umur semakin menyempit pertemanan.

Tidak mengherankan sih.

Bukan berarti Saya atau orang-orang itu tidak memiliki teman ya!

Cenderung karena waktu sudah tak menjadi selenggang dulu. Dampak dari sudah waktunya masuk ke dalam dunia profesional. Entah menjadi karyawan atau berbisnis.

Lebih-lebih menjadi pengusaha. Bisa sangat kesepian.

Ketika sedang mengelola bisnis, Saya sering lupa waktu dan terlalu sibuk dengan bisnis Saya. Fokus produksi, riset, pemecahan masalah, dan terutama ketika memikirkan strategi pemasaran.

Strategi marketing yang Saya lakukan dominan secara online. Jadi, Saya cukup berlama-lama di depan laptop dan ponsel saja untuk bekerja dan berkomunikasi.

Saya jadi jarang keluar rumah, bahkan jarang sekali keluar kamar.

Tidak ada banyak teman, terutama untuk berdiskusi.

Kecuali keluarga, rekan bisnis (investor Saya – yang kebetulan masih menempuh studynya di Jepang), beberapa teman dengan bidang pekerjaan yang sama, dan pegawai.

Ketika awal-awal membangun usaha, justru lebih parah. Belum memiliki pegawai. Teman yang memiliki bidang sumber mata pencaharian sama juga belum ada. (Teman se-visi lah kira-kira)

Sekali lagi, bukan Saya anti sosial dan tidak punya teman ya!

Hanya saja, tidak banyak teman yang terjun dalam dunia bisnis, terutama yang tinggal di sekitar Saya. Atau mungkin Saya belum banyak menemukannya saja. Bisa jadi.

Itu yang akan Anda alami ketika memulai bisnis. Berjalan sendiri, tidak ada teman, dan kesepian.

6. Anda Tidak Akan Mampu!

Sudahlah! Bisnis itu berat. Anda tidak akan mampu.

Saya bukan menakut-nakuti.

Dari apa yang Saya ceritakan sebelumnya, seharusnya sudah sedikit menggambarkan betapa tidak mudahnya menjalani bisnis.

Waktu, tenaga, pikiran semua habis tercurahkan untuk bisnis.

Bisa saja Anda meluangkan waktu untuk yang lain.

Tapi, ketika bisnis Anda belum stabil (atau Anda baru memulai bisnis) pasti alam bawah sadar Anda akan memaksa Anda untuk selalu memikirkan bisnis, mencari solusi atas permasalahan bisnis, memikirkan target penjualan, memikirkan strategi pemasaran, atau hanya bertanya-tanya kapan berhasilnya?

Masalah pada bisnis itu tidak ada habisnya.

Kalau masalah satu selesai, lalu masalah lainnya berdatangan sih oke saja.

Tapi ini, bukan hanya silih berganti tapi juga terus bertumpuk-tumpuk.

Contoh saja “Sudah hari ini tidak laku, masih dapat komplain dari pelanggan. Mau tidak mau harus ganti barang yang kualitasnya jelek. Belum lagi harga bahan baku naik, ongkos kirim mahal, suplier kehabisan barang”

Saya pernah mengalaminya dalam sekali waktu.

Jadi gimana? Anda sanggup?

Sebaiknya, jangan dipaksakan!

7. Jadi Bos Yang Memerintah Sesukanya? Yang Benar Saja

Menjadi pengusaha memang memiliki otoritas terhadap usahanya sendiri. Semua bisa dilakukan sesuai kehendak diri sendiri.

Tapi kenyataannya tidak terdengar semanis itu.

Bagi Anda yang baru memulai dan dengan modal pas-pasan, jangan berharap akan langsung memiliki pegawai. Semua masih harus dilakukan sendiri.

Ketika sudah memiliki pegawai, juga tidak akan secara otomatis menjadi mudah.

Percaya tidak, kalau pada dasarnya semua manusia itu egois. Peduli pada diri mereka sendiri, pada apa yang mereka butuhkan, dan pada apa yang menurut mereka nyaman.

Itu sebabnya sulit mencari karyawan yang benar-benar memiliki integritas tinggi.

Bukan tidak ada, tapi sulit.

Apa yang membuat karyawan nyaman terkadang bertentangan dengan apa yang diinginkan perusahaan.

Sederhana saja, umumnya yang membuat karyawan nyaman adalah terbebas dari tekanan yang sudah Anda baca pada bagian awal tadi.

Sementara itu, bagi sebuah perusahaan yang ingin terus ada dan maju tekanan tersebut pasti tumbuh dengan sendirinya.

Jadi, sebelum jauh berbicara banyak tentang mencari karyawan yang memiliki integritas tinggi, coba nilai diri Anda sendiri dulu!

Begini saja, jika Anda pernah menjadi atau saat ini masih menjadi karyawan. Bagaimana kualitas kerja Anda ketika sedang atau tidak sedang diawasi oleh atasan?

Sama atau berbeda?

Jawab saja dalam hati!

Jika kualitas kerja Anda tetap sama, itu artinya Anda adalah karyawan yang memiliki integritas.

Tapi jika tidak sama?

Ya, Anda sudah tahu apa kesimpulannya, bukan?

Tentu jika Anda memiliki karyawan yang integritasnya rendah, maka akan berdampak negatif pada produktivitas.

Ini masih belum membahas bagaimana mencari orang yang bisa dipercaya (tidak akan menipu atau membocori bisnis Anda), orang yang kompeten di bidangnya, dan bagaimana sulitnya mengatur SDM (Sumber Daya Manusia).

Sekarang bagaimana?

Anda masih KERAS KEPALA ingin jadi pengusaha?

Baiklah, jika memang Anda sudah terlalu keras kepala ingin menjadi pengusaha, ikuti 3 saran dari Saya berikut:

1. Jangan Terjun Total Dulu

Lhoh, bukannya justru harus totalitas?

Nantinya begitu, tapi sekarang jangan dulu. Terutama bagi Anda yang masih menggantungkan hidupnya sementara ini pada gaji bulanan.

Kenapa begitu?

Anda belum tahu ilmunya. Terutama ilmu jualan.

Ingat yang Saya ceritakan, Kalau tidak berhasil dalam penjualan, bisnis Anda akan mati. “No selling, Dying.”

Takutnya, jika Anda memaksakan diri lalu gagal, Anda akan menjadi cepat menyerah (Itu sama sekali tidak diperbolehkan dalam bisnis). Resiko lainnya, Anda sudah tidak punya sumber penghasilan tetap.

Dimana bisa mencari ilmunya?

Anda bisa membeli buku, nonton youtube, membaca artikel pada blog-blog bisnis, ikut seminar, dll.

Jangan terlalu banyak. Nanti akan semakin bingung, dan Anda justru terlalu fokus untuk belajar. Tidak ada prakteknya. Bahaya kalau seperti itu.

Kalau tidak ingin bingung, Download Ebook 11 Cara Jadi Jago Jualan ini saja! GRATIS.

Anda juga bisa memikirkan untuk memasarkan secara online.

Ya, dengan menerapkan strategi digital marketing.

Tapi bingung untuk memulainya?

Jangan khawatir, coba belajar digital marketing saja dulu!

2. Jangan Terlalu Banyak Mencari Informasi Di Internet

Lhoh, katanya belum boleh totalitas dalam bisnis karena harus belajar ilmunya dulu?

Kok justru dibatasi?

Apalagi ilmu sekarang kan mudah ditemukan di internet.

Anda tidak salah.

Bahkan, Saya jadi bisa desain grafis, video editing , search engine optimation, internet marketing, dan banyak ilmu bermanfaat lainnya lebih banyak dari internet.

Berbeda dengan dulu, saat ini sumber informasi yang diperoleh dari internet sudah banyak yang dibahas secara mendalam. Banyak yang berkualitas.

Tapi ada satu penyakit.

Penyakit terus-menerus berselancar mencari informasi.

Tidak segera action.

Jadi, sejak awal batasi saja tiga sumber informasi jika Anda ingin mencari ilmu di Internet. Selain agar Anda tidak terus-menerus mencari informasi di Internet, juga agar informasi yang Anda peroleh tidak overload.

3. Action Dari Bisnis yang Termudah dan Minim Resiko Terlebih Dahulu

Sudah, jangan tergiur ingin cepat kaya!

Jangan tergiur peluang bisnis hanya melihat keuntungannya yang ditawarkan!

Ada banyak bisnis yang seperti ini.

Pamer foto uang atau foto transfer pembayaran dalam jumlah besar.

Jangan percaya!

Bukan maksud menjelekkan citra bisnis seperti itu. Meski kebanyakan sistem bisnis yang mereka tetapkan adalah MLM.

Tapi, sekali lagi jangan percaya!

Seperti yang Saya katakan, tidak ada yang instan. Untuk menjadi besar, bisnis Anda butuh proses.

Memulai bisnis yang terbaik adalah mencoba yang paling mudah dan minim resiko.

Peluang bisnis paling mudah dan minim resiko adalah menjadi Dropshipper dan Reseller.

Kenapa begitu?

  • Tidak repot menciptakan produk. (Menciptakan produk itu tidak mudah lhoh, butuh trial eror dan riset yang panjang dan mendalam)
  • Modalnya kecil, apalagi untuk dropshipper. Memang, beberapa peluang usaha reseller/dropshipper memberikan syarat biaya pendaftaran.
  • Bisnis terbaik untuk belajar jualan. Ingat, tujuan awalnya untuk belajar jualan bukan mendapatkan banyak uang dulu.
  • Sarana membuka pasar, jika sudah terbentuk marketnya Anda bisa mulai mempertimbangkan untuk menjual produk Anda sendiri.

Lalu, produk apa yang bagus untuk reseller/dropshipper?

Ada

  1. Cari produk yang memang laku. Anda tidak sedang harus repot memikirkan produk. Tapi memikirkan bagaimana cara jualannya.
  2. Pilih produk yang memang memiliki kualitas bagus. Ingat, yang menjalin hubungan dengan konsumen adalah Anda. Kalau kualitasnya buruk, yang akan malu adalah Anda.
  3. Temukan supplier yang mudah diajak berkomunikasi.

Kalau masih bingung, coba beberapa peluang usaha reseller berikut.

  • Billionaire Store (Produk: Buku bisnis) Selain praktik jualan Anda bisa belajar ilmunya. Ada uang pendaftaran Rp 399.000 mendapatkan bonus buku.
  • Dropshipaja.com  (Produk: Case, Kaos, Hoodie, dll dengan sistem Print on Demand) Ada uang pendaftaran Rp 150.000 dan mendapatkan beberapa bonus video marketing.
  • Dusdusan.com (Produk: Ada banyak produk, umumnya peralatan rumah tangga) Pendaftaran cukup Rp 99.000 saja.
  • Lukiluck.id (Produk: Keripik Pisang) GRATIS, Tidak ada biaya pendaftaran, dan mendapatkan bonus ebook 11 CARA JADI JAGO JUALAN

Tidak ada peluang bisnis yang menarik?

Coba saja salah satu dari peluang berikut!

Siapa tahu ada yang cocok.

Kalau sudah tahu akan bisnis apa, sebaiknya pelajari strategi digital marketing untuk menunjang pemasarannya.

Di awal, 3 saran Saya tersebut sepertinya sudah cukup.

Setelah ini, yang menentukan adalah mental dan tekad Anda. Saya lebih senang menyebutnya seberapa KERAS KEPALA-nya Anda untuk benar-benar terjun dalam dunia bisnis.

Saya tidak yakin Anda sanggup.

Tapi, jika mental Anda benar-benar sanggup Saya rasa 7 gambaran tentang enaknya jadi pengusaha yang sudah Anda baca di atas bukanlah hal yang mustahil.

Hanya saja, sekali lagi. Tidak bisa instan. Dan tergantung seberapa keras kepalanya Anda.

Blog ini Saya buat bukan karena ingin menjadi inspirator. Saya tidak sehebat itu.

Saya membuatnya sebagai pengiring perjalanan bisnis Saya, berbagi pengalaman yang sudah Saya alami, berbagi tips dan strategi bisnis serta penjualan yang Saya lakukan dan menurut Saya efektif​.

Jadi, kalau Anda ingin belajar lebih lanjut mengenai pengembangan bisnis, bisnis online, internet marketing, dan strategi pemasaran lainnya jangan lupa untuk mendaftar email Anda melalui halaman ini.

Apa saja keuntungannya?

  • Seluruh konten yang sekarang ada atau nanti akan ada di BlogNIAM
  • Pemberitahuan ketika ada konten terbaru yang diterbitkan
  • Tips pengembangan bisnis yang hanya dipublikasikan khusus untuk Anggota.

Anda harus bayar berapa?

GRATIS

Yang Anda butuhkan hanya mendaftarkan email.

Daftarkan di sini!

Sampai jumpa pada layar yang lebih personal!

Satu lagi, jika Anda merasa apa yang Saya tulis di atas bagus, atau bisa membantu membuka pikiran teman-teman atau saudara dekat Anda tentang menjadi pengusaha. Tidak ada salahnya Anda bagikan kepada mereka.

Tinggalkan komentar